Indahnya Silaturahmi
Ilustrasi
Oleh: Su Ie SS. Bersilaturahmi. Sebuah kata yang
sangat indah dengan makna yang penuh manfaat bagi mereka yang mau menjalani.
Jika kita lihat sejenak makna silaturahmi adalah saling jenguk, saling
mendatangi demi kokohnya sebuah persaudaraan.
Tapi silaturahmi dijalankan juga demi kokohnya sebuah
persahabatan dan keharmonisan hidup bertetangga jika konteks silaturahmi yang
dijalani berkaitan dengan tetangga dan teman sekitar kita.
Bicara tentang silaturahmi mungkin kita lebih mengaitkan ini dengan hari besar keagamaan seperti Lebaran yang sedang kita rayakan. Padahal silaturahmi bukan hanya layak dijalani pada hari-hari besar keagamaan. Juga pada saat ada hajatan seperti penyelenggaraan pesta dan saat ada kemalangan sekalipun. Tapi di saat-saat tertentu kala kita peduli dan memiliki rasa rindu ingin tahu kabar mendalam tentang orang-orang yang ada dulu ada di sekitar kita. Tak ada salahnya jika kita benar-benar mau dan peluang itu ada, kita bersilaturahmi dengan mereka.
Lihat saja beberapa hari menjelang Lebaran. Terminal, pelabuhan, stasiun bus bahkan bandara sudah begitu ramai dengan para pemudik yang siap untuk pulang ke kampung halaman mereka. Jauh hari sebelum Lebaran tiba, mereka telah memiliki tiket untuk pulang. Alasan mereka selain rindu dengan sanak keluarga karena selama setahun berada di negeri orang dengan aktivitas, juga karena ingin bersilaturahmi. Mumpung hari baik dan bulan baik. Kesempatan untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah secara sengaja atau tidak dilakukan. Lalu setelah itu berkumpul dan tercapailah sebuah silaturahmi yang diinginkan. Kerinduan mendalam pada orang tua, sanak saudara tercinta kini terlampiaskan begitu bisa berkumpul bersama merayakan hari kemenangan.
Cerita dan pengalaman menarik selama berada di rantau orang lantas mengalir lancar dari bibir mereka yang baru pulang. Suka-duka menjalani pekerjaan sampai pengalaman menjalankan ibadah puasa dan segudang cerita menarik lainnya. Lebaran lantas menjadi ajang untuk berkumpul tidak hanya dengan sanak saudara, tapi dengan teman yang sudah lama berpisah. Apalagi dengan para tetangga di mana masa kecil telah dihabiskan bersama mereka.
Dari cerita yang mengalir, akhirnya banyak informasi yang tidak terlalu kita ketahui tentang perkembangan kampung halaman yang sudah sering kita tinggalkan. Tentang si anu yang sudah menikah dan keluarga kamu juga diundang. Tentang si B yang sudah meninggal. Tentang si C yang sudah sukses merintis usaha dan sebagainya. Bukannya kabar-kabar tersebut tidak pernah diberi tahu ke kita. Tapi saat disinggung lagi sebagai sebuah selipan obrolan jadi menggugah rasa bahagia dan haru kita atas masing-masing kabar yang disampaikan kembali. Saat kita disuguhi obrolan yang membahagiakan, kita ikut bahagia meski hari bahagia teman itu sudah berlalu. Saat kita dikabari lagi sebuah berita sedih, rasa haru dan sendu juga menghiasi wajah kita.
Itu makna yang dapat kita rasakan jika sudah berkumpul kembali dengan orang-orang tercinta yang sudah lama meninggalkan kita lewat sebuah kegiatan yang namanya silaturahmi.Kadang sudah saking larut berkumpul dengan mereka, kita jadi merasa berat untuk kembali bertugas setelah hari untuk menjalankan aktivitas tiba. Karena kita ingin berbuat lebih membahagiakan mereka dan demi masa depan kita juga, akhirnya kita tinggalkan mereka dan berjanji akan kembali. Kita tak melupakan silaturahmi bentuk lain seperti rajin berkomunikasi lewat HP meski jarak begitu jauh memisahkan. Sesungguhnya berkomunikasi lewat media seperti HP juga bagian dari sebuah silaturahmi. Di sana kita bisa cerita apa saja dan berlama-lama. Apalagi operator selular selalu menyediakan diskon dengan tarif cukup murah. Hanya yang membedakan, lewat komunikasi dengan HP, kita hanya mendengar suara dan melihat orang yang kita hubungi karena media komunikasi yang kian canggih. Kita tidak bisa saling berangkulan.
Bersilaturahmi menjadi bagian yang tak terbantahkan harus selalu ada dalam kehidupan manusia. Saat Lebaran, saling mengunjungi dan mengujarkan maaf menjadi bagian yang harus dijalani. Kita tak bisa memproklamir diri kita bersih dan tak pernah melakukan kesalahan. Sekalipun yang kita datangi adalah orang yang jarang sekali kita datangi dan kita merasa tak pernah menyakiti dan berbuat salah pada orang tersebut, kata salam dan permintaan maaf harus tetap kita ujarkan. Mereka yang lebih tua wajib menanti kedatangan anak atau kerabat yang lebih muda untuk bersilaturahmi dengan mereka. Yang muda wajib menyadari apa yang harus mereka lakukan. Baru selanjutnya bersilaturahmi dengan tetangga atau teman. Juga membuka pintu silaturahmi dengan mereka yang berbeda agama dengan kita.
Setidaknya kita mengundang mereka ke rumah. Sama seperti yang pernah mereka lakukan mengundang kita ke rumah mereka saat hari kebesaran agama mereka tiba. Menyuguhi mereka dengan aneka kue dan sirup. Mereka juga akan kelihatan bahagia dan merasa sudah seperti bagian dari keluarga kita. Kita yang mengaku cinta dengan kemajemukan, semangat masyarakat yang menjunjung pluralisme pasti merasa mereka juga seperti keluarga kita. Hanya keyakinan yang membedakan. Tapi itu tak lantas harus jadi penghalang untuk bersosialisasi. Apalagi membuka pintu untuk bersilaturahmi.
Saat mereka merayakan hari keagamaan mereka, kita juga menerima berkah dari perayaan yang mereka jalankan. Begitu juga sebaliknya. Mereka merasakan berkah yang mendalam dari perayaan hari Lebaran. Itulah yang namanya silaturahmi. Indahnya berbagi dan saling peduli serta menghargai hari besar agama lain.
Semoga silaturahmi yang dijalani bisa memotivasi semangat baru untuk berbuat lebih baik lagi.
Bicara tentang silaturahmi mungkin kita lebih mengaitkan ini dengan hari besar keagamaan seperti Lebaran yang sedang kita rayakan. Padahal silaturahmi bukan hanya layak dijalani pada hari-hari besar keagamaan. Juga pada saat ada hajatan seperti penyelenggaraan pesta dan saat ada kemalangan sekalipun. Tapi di saat-saat tertentu kala kita peduli dan memiliki rasa rindu ingin tahu kabar mendalam tentang orang-orang yang ada dulu ada di sekitar kita. Tak ada salahnya jika kita benar-benar mau dan peluang itu ada, kita bersilaturahmi dengan mereka.
Lihat saja beberapa hari menjelang Lebaran. Terminal, pelabuhan, stasiun bus bahkan bandara sudah begitu ramai dengan para pemudik yang siap untuk pulang ke kampung halaman mereka. Jauh hari sebelum Lebaran tiba, mereka telah memiliki tiket untuk pulang. Alasan mereka selain rindu dengan sanak keluarga karena selama setahun berada di negeri orang dengan aktivitas, juga karena ingin bersilaturahmi. Mumpung hari baik dan bulan baik. Kesempatan untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah secara sengaja atau tidak dilakukan. Lalu setelah itu berkumpul dan tercapailah sebuah silaturahmi yang diinginkan. Kerinduan mendalam pada orang tua, sanak saudara tercinta kini terlampiaskan begitu bisa berkumpul bersama merayakan hari kemenangan.
Cerita dan pengalaman menarik selama berada di rantau orang lantas mengalir lancar dari bibir mereka yang baru pulang. Suka-duka menjalani pekerjaan sampai pengalaman menjalankan ibadah puasa dan segudang cerita menarik lainnya. Lebaran lantas menjadi ajang untuk berkumpul tidak hanya dengan sanak saudara, tapi dengan teman yang sudah lama berpisah. Apalagi dengan para tetangga di mana masa kecil telah dihabiskan bersama mereka.
Dari cerita yang mengalir, akhirnya banyak informasi yang tidak terlalu kita ketahui tentang perkembangan kampung halaman yang sudah sering kita tinggalkan. Tentang si anu yang sudah menikah dan keluarga kamu juga diundang. Tentang si B yang sudah meninggal. Tentang si C yang sudah sukses merintis usaha dan sebagainya. Bukannya kabar-kabar tersebut tidak pernah diberi tahu ke kita. Tapi saat disinggung lagi sebagai sebuah selipan obrolan jadi menggugah rasa bahagia dan haru kita atas masing-masing kabar yang disampaikan kembali. Saat kita disuguhi obrolan yang membahagiakan, kita ikut bahagia meski hari bahagia teman itu sudah berlalu. Saat kita dikabari lagi sebuah berita sedih, rasa haru dan sendu juga menghiasi wajah kita.
Itu makna yang dapat kita rasakan jika sudah berkumpul kembali dengan orang-orang tercinta yang sudah lama meninggalkan kita lewat sebuah kegiatan yang namanya silaturahmi.Kadang sudah saking larut berkumpul dengan mereka, kita jadi merasa berat untuk kembali bertugas setelah hari untuk menjalankan aktivitas tiba. Karena kita ingin berbuat lebih membahagiakan mereka dan demi masa depan kita juga, akhirnya kita tinggalkan mereka dan berjanji akan kembali. Kita tak melupakan silaturahmi bentuk lain seperti rajin berkomunikasi lewat HP meski jarak begitu jauh memisahkan. Sesungguhnya berkomunikasi lewat media seperti HP juga bagian dari sebuah silaturahmi. Di sana kita bisa cerita apa saja dan berlama-lama. Apalagi operator selular selalu menyediakan diskon dengan tarif cukup murah. Hanya yang membedakan, lewat komunikasi dengan HP, kita hanya mendengar suara dan melihat orang yang kita hubungi karena media komunikasi yang kian canggih. Kita tidak bisa saling berangkulan.
Bersilaturahmi menjadi bagian yang tak terbantahkan harus selalu ada dalam kehidupan manusia. Saat Lebaran, saling mengunjungi dan mengujarkan maaf menjadi bagian yang harus dijalani. Kita tak bisa memproklamir diri kita bersih dan tak pernah melakukan kesalahan. Sekalipun yang kita datangi adalah orang yang jarang sekali kita datangi dan kita merasa tak pernah menyakiti dan berbuat salah pada orang tersebut, kata salam dan permintaan maaf harus tetap kita ujarkan. Mereka yang lebih tua wajib menanti kedatangan anak atau kerabat yang lebih muda untuk bersilaturahmi dengan mereka. Yang muda wajib menyadari apa yang harus mereka lakukan. Baru selanjutnya bersilaturahmi dengan tetangga atau teman. Juga membuka pintu silaturahmi dengan mereka yang berbeda agama dengan kita.
Setidaknya kita mengundang mereka ke rumah. Sama seperti yang pernah mereka lakukan mengundang kita ke rumah mereka saat hari kebesaran agama mereka tiba. Menyuguhi mereka dengan aneka kue dan sirup. Mereka juga akan kelihatan bahagia dan merasa sudah seperti bagian dari keluarga kita. Kita yang mengaku cinta dengan kemajemukan, semangat masyarakat yang menjunjung pluralisme pasti merasa mereka juga seperti keluarga kita. Hanya keyakinan yang membedakan. Tapi itu tak lantas harus jadi penghalang untuk bersosialisasi. Apalagi membuka pintu untuk bersilaturahmi.
Saat mereka merayakan hari keagamaan mereka, kita juga menerima berkah dari perayaan yang mereka jalankan. Begitu juga sebaliknya. Mereka merasakan berkah yang mendalam dari perayaan hari Lebaran. Itulah yang namanya silaturahmi. Indahnya berbagi dan saling peduli serta menghargai hari besar agama lain.
Semoga silaturahmi yang dijalani bisa memotivasi semangat baru untuk berbuat lebih baik lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar